Selasa, 25 Desember 2012

Mempertanyakan Kembali Keberadaan Benua Atlantis



The Lost Island

perbincangan mengenai benua yang hilang – benua Atlantis- seakan terus menerus menelurkan beberapa pendapat yang berbeda. Perbedaan pendapat mengenai keberadaan Atlantis tersebut barangkali berangkat dari ketidakjelasan perbincangan plato mengenati letak dan dimana benua Atlantis itu berada dengan beberapa muridnya meskipun ada beberapa kata kunci. Hal ini pada akhirnya menimbulkan perbedaan pendapat dari para sejarawan tentang keberadaan benua Atlantis. Sehingga tidak salah bila mereka mengatakan bahwa atlantis itu bisa dimana saja. -it could be anywhere-



kita harus benar-benar menghargai perbedaan pendapat dari sejarawan yang mengatakan demikian, meskipun kita masih belum merasa benar-benar setuju dengan pendapat mereka. Kita harus menghormati cara kerja ilmuan yang mencari kebenaran berdasarkan fakta-fakta atau sumber sejarah yang pasti. Karena para sejarawan yang mengatakan bahwa atlantis itu bisa dimana saja tidak hanya menyimpulkannya begitu saja, melainkan mereka berkata dengan adanya alasan yang bisa dipertahankan.



Para ilmuwan tersebut adalah orang-orang yang benar-benar mencari fakta/bukti historis dengan secara detail, mereka mencari korelasi antara isi dari dialog Plato yang dihubungkan dengan keadaan alam dan sisa-sisa bangunan kuno yang menurut mereka mempunyai hubungan khusus dengan benua Atlantis.



Meskipun para ilmuwan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, tapi pada akhirnya kerja keras mereka membuahkan penemuan-penemuan yang baru mengenai Atlantis. Lalu apakah temuan mereka terhadap keberadaan benua atlantis itu benar-benar telah mencapai kesepakatan bersama –para ahli sejarah-?



Kenyataanya hal itu belum benar-benar menjadi sebuah kesepakatan mutlak. Disinilah kita harus memahami cara kerja para ilmuwan dalam mencari dan mengolah data-data yang pada akhirnya akan dijadikan sebuah kesimpulan. Begitu juga kita harus memahami bagaimana mereka satu sama lain saling menyangkal pendapat-pendapat mengenai atlantis.



Atlantis –Sebuah Benua Yang Hilang-



Mitos Atlantis muncul ketika mahaguru Socrates berdialog dengan ketiga muridnya; Timaeus, Critias dan Hermocrates. Critias menuturkan kepada Socartes di hadapan Timaeus dan Hermocrates cerita tentang sebuah negeri dengan peradaban tinggi yang kemudian ditenggelamkan oleh Dewa Zeus karena penduduknya yang dianggap pendosa. Critias mengaku ceritanya adalah true story, sebagai pantun turun temurun dari kakek buyut Critias sendiri yang juga bernama Critias.



Critias, si kakek buyut, mengetahui tentang Atlantis dari seorang Yunani bernama Solon. Solon sendiri dikuliahi tentang Atlantis oleh seorang pendeta Mesir, ketika ia mengunjungi Kota Sais di delta Sungai Nil. Bayangkan cerita lisan turun temurun yang mungkin banyak terjadi distorsi ketika Critias, si cicit, menceritakan kembali kepada Socrates, sebelum ditulis oleh Plato. (melalui tulisan Budi Brahmantyo ”PR” 7 Oktober 2006)



Sudah barang tentu bahwa sumber penting yang pertama bagi para ilmuwan untuk memulai penelitiannya adalah teks dialog tersebut. Sumber itu merupakan bekal pertama para ilmuwan untuk meneliti kebenaran keberadaan benua yang hilang. Para ilmuwan berpendapat bahwa meskipun itu hanya sebuah mitos, yang disampaikan secara turun temurun- tapi dalam mitos tersebut pasti terdapat sebuah sejarah –meskipun sedikit- yang berhubungan dengan mitos tersebut.



Beberapa Penemuan Tentang Atlantis (Mesir-Maya-Akrotiri)



Berangkat dari sana para ilmuwan mulai mencari bukti-bukti sumber data mengenai keberadaan benua atlantis. Beberapa ilmuan ada yang berkeyakinan bahwa benua atlantis itu berada di Meksiko –Peradaban Maya- karena disana ditemukan beberapa bukti-bukti yang berhubungan dengan atlantis. Salah satunya adalah adanya beberapa patung relief yang menyerupai gajah –tanda-tanda dari peradaban atlantis- tepat didepat monumen piramida. –George Erikson-



Namun tidak lama setelah George Erikson mengemukakan pendapatnya mengenai Atlantis di maya, ada beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan pendapat tersebut. Menurut mereka –ilmuwan yang tidak setuju- patung yang diyakini Erikson sebagai bukti keberadaan sejarah atlantis hanyalah seekor burung atau seekor musang.



Ada juga ilmuan -William Henry- yang mengatakan bahwa Atlantis itu mempunyai hubungan erat dengan ornamen-ornamen di Mesir. Ia mempunyai pendapat bahwa piramida-piramida dan patung-patung besar yang ada di Mesir dibangun dengan bantuan orang-orang Atlantis dan mungkin dengan bantuan ufo.



mungkin kita akan berpikir demikian kalau kita meyakini bahwa orang-orang Atlantis pada waktu itu telah mencapai peradaban yang tinggi dan mungkin tekhnologi pun sudah dikenal baik pada waktu itu. Hal ini terbukti dengan adanya relief-relief yang serupa dengan kendaraan yang sekarang kita kenal dengan helikopter, kapal selam, dan bahkan ada gambar yang Nampak seperti ufo.











Namun para ilmuwan lain nampaknya mempunyai pendapat berbeda dengan yang dikemukakan oleh William Henry. Para ilmuwan yang meragukan bahwa relief-relief yang menyerupai kapal selam, helikopter dan ufo tersebut berpendapat tidak benar adanya. Mereka berpendapat bahwa relief yang diungkapkan peneliti di Mesir itu bukanlah kapal selam, helikopter dan bahkan ufo. Mereka meyakini bahwa ada pengikisan dari gambar asli –yang sudah berumur beribu tahun itu- dengan gambar yang ada sekarang.



Begitu juga seiring dengan peniliti mesir diatas, nampaknya ada yang mempunyai pemikiran yang bertolak belakang mengenai keberadaan orang atlantis di mesir. Ilmuwan yang mempertanyakan ulang pendapat diatas adalah Profesor Salima Ikram. Dia tidak setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa patung dan piramida yang ada dimesir dikaitkan dengan alien, ufo dan orang-orang atlantis. Dia lebih lanjut menambahkan bahwa bila memang benar adanya bantuan dari orang-orang atlantis maka seharusnya dimesir juga ditemukan peninggalan-peninggalan yang berhubungan dengan orang atlantis semisal perahu atau kapal.



Sementara disisi lain ada ilmuwan yang meyakini bahwa letak benua atlantis itu beralih ke Santorini-Minoan-Akritiri. Didalam penjelasan Plato –The Geat Philoshoper- benua Atlantis itu besarnya melebihi gabungan antara benua Asia dan libia. Dihuni oleh para intelektual yang mempuni dan kehidupan yang gemah ripah loh jinawi, namun keadaan tersebut ternyata malah membuat orang-orangnya lupa diri sehingga menimbulkan kemarahan Tuhan, sebagai balasannya Tuhan yang begitu murka pada akhirnya membinasakan peradaban itu. Deskripsi yang dijelaskan oleh Plato diatas bisa dijadikan bukti untuk membenarkan bahwa benua atlantis itu berada didaerah Santorini.



Jauh sebelum Plato dilahirkan terdapat peradaban yang dipercayai sudah memenuhi kriteria dengan penjelasan Plato didalam dialognya, salah satu bukti yang bisa dipercayai adalah temuan peradaban oleh seorang arkeolog pada tahun 1939 yang ada di Minoan Akrotiri. Temuan itu telah terkubur beberapa ribu tahun dan arkeolog tersebut sangat percaya bahwa debu-debu yang membuat reruntuhan ini tetap kuat adalah akibat terkubur didalam debu dari letusan gunung berapi yang dahsyat.



Namun penemuan dan anggapan Minoan Akrotiri sebagai benua atlantis lagi-lagi dipertanyakan kembali oleh para ilmuwan yang skeptis, salah satunya karena letak wilayah yang diterangkan Plato berbeda dengan letak dimana Minoan Akritiri berada. Besar luasnya benua atlantis yang dijelaskan Plato mencakup benua asia dan libia itu menurut mereka –ilmuwan yang skeptis- tidak sesuai.




Terlepas dari itu temuan Minoan Akrotiri ini dikatakan sebagai temuan yang paling mendekati dengan penjelasan Plato. Minoan Akritiri adalah peradaban yang sudah sangat maju di eropa pada zaman dulu. Tidak hanya itu, pilar yang dikenal sebagai pilar Hercules itu diyakini adalah selat Gibraltar.



Atlantis dan Sundaland



Orang Indonesia akhir-akhir ini tengah merasakan gloria dengan pernyataan Profesor Santos yang mengatakan bahwa benua atlantis itu adalah Indonesia –sebagai pusatnya-. Dengan bukti-bukti yang dikaitkan seperti Gajah, Banteng, dan Piramida, letak geografis yang banyak dihuni gunung-gunung merapi.



Namun benarkah benua atlantis yang hilang itu ada di Indonesia? Pernyataan ini mungkin akan sulit diterima karena bila benar pusat dari benua atlantis yang di katakan Prof Santos itu, maka haruslah ada suatu monumen-monumen kuno yang begitu megah melampaoi bangunan besar seperti piramida, patung sphink, dan peradaban Minoan Akrotiri tadi.



Bukan hanya itu bila benar Indonesia pusat dari benua atlantis, maka kita harus bertanya adakah suatu peninggalan besar yang bisa mewakili dan menjadi bukti bahwa Indonesia adalah benua Atlantis yang megah itu. Karena kita tahu bahwa suatu peradaban itu akan bisa melahirkan sebuah peradaban yang tinggi apabila mereka telah menetap lama dimana mereka tinggal. Sehingga kita bisa berpikir bahwa pada waktu yang lama itu pasti terlahir suatu kebudayaan atau monumen-monumen yang banyak dan megah yang bisa kita temukan sekarang.



Terlebih tidak adanya pembahasan apakah benua atlantis berada diwilayah tropis, deskripsi yang dijelaskan Plato sebagai pilar Hercules tidak dijelaskan secara detail, waktu dari tenggelamnya pulau yang dijelaskan Plato hanya satu malam ternyata tidak sesuai dengan penjelasan Profesor Santos, dan terakhir adalah ketidak suaian yang bisa disetujui dengan penjelasan Profesor Santos tentang kebudayaan yang hidup pada zaman dulu. (melalui tulisan Budi Brahmantyo ”PR” 7 Oktober 2006)



terlepas dari itu, saya tidaklah membantah sama sekali pendapat mengenai pendapat bahwa benua Atlantis itu pusatnya ada di Indonesia. Tapi saya sedikit ragu karena belum adanya fakta-fakta yang betul-betul bisa membuat saya percaya bahwa Indonesia adalah benua Atlantis yang hilang itu. Dan saya mungkin akan percaya bila suatu hari ada ilmuwan, sejarawan, arkeolog, ataupun para linguist yang bisa memecahkan dan memberikan bukti yang konkrit.


Muhammad Zaki Al-Aziz



www.lintas-copas.blogspot.com