Kamis, 06 Desember 2012

Pengalaman Pribadi dengan Al Magfurlah KH. Noer Ali

Semua orang pasti terkesan dengan figur almagfurlah K. H. Noer Ali, seorang pejuang dari Bekasi yang telah mempersembahkan banyak karya untuk bangsa dan negara ini. Wajar saja, beliau dianugerahkan gelar pahlawan nasional. Tak terkecuali aku, seorang yang masih “bocah ledok” di tahun 1980-an, pernah berjumpa dengan sosok tersebut yang penuh kharismatik. Bagiku, pribadi Pak Kyai merupakan seorang yang punya pandangan futuristic yang sangat tajam, mampu melihat sesuatu yang terjadi jauuuh di masa yang akan datang. Hal ini, aku sadari setelah melewati lebih kurang tujuh belas tahun masa perjalanan hidupku. Ceritanya begini…

Mungkin aku lebih memilih kata “tahadduts Binni’mah” daripada kata “takabbur” untuk menggambarkan perilaku ayah ku yang selalu datang ke masjid untuk salat Jum’at di masjid At-Taqwa Ujungharapan Bekasi.

Seperti biasa, walau baru jam 9 pagi ayahku sudah bergegas menuju masjid at –Taqwa untuk salat Jum’at. Ini kuperhatikan bukan tahun-tahun ini saja seperti itu, tapi juga sudah terbiasa sejak aku masih kecil, saat belum sekolah madrasah Ibtidaiyah.
Kebiasaa itu kuketahui, sebab aku sering diajak beliau untuk salat jum’at bersamanya. Cuma sesampainya di masjid, ayahku langsung masuk kedalam, lalu salat. Kemudian mengambil posisi duduk membaca al-Qur’an persis dimuka pintu masuk menara sebelah utara yang biasanya digunakan oleh Ustadz H. Abdul Rozaq RM untuk menyampaikan beberapa pengumuman sebelum salat jum’at dilkasanakan.

Namun sekarang ini, pengumuman sebelum salat jum’at dilakukan di podium utama disamping tempat imam salat yang dipercayakan kepada Ust. Syafiuddin, finalis acara dai yang disiarkan TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) pada tahun 2000an.
Sementara ayahku duduk di muka pintu masuk menara sebelah utara, aku sendiri main-main dibagian depan masjid yang beratap auning dan memiliki beberapa tiang itu. Terkadang sambil memegang salah satu tiang aku berputar-putar bagai kitiran yang terbuat dari belarak daun kelapa.

Kalau Anda termasuk yang lahir tahun 80an kebelakang, mungkin masih ingat masjid At-Taqwa dulu punya 2 buah menara. Satu di sebelah selatan dan satunya lagi di sebelah utara. Bagian depannya beratapkan auning, yaitu bahan sejenis seng atau kaleng tipis.
Untuk menunjang atap auning itu digunakan tiang-tiang dari besi yang sepertinya dalam tiang besi itu kosong tidak berisi. Banyak tiang yang digunakan pada tepi lantai bagian depan masjid at-Taqwa.


Lantai dalam masjid At-Taqwa pada saat itu terbuat dari ubin warna semen terbalut karpet hijau. Sedangkan bagian depan hanya berlantaikan ubin berwarna sama dengan lantai bagian dalam. Ubin lantai mempunyai saluran-saluran kecil yang menjorok kedalam. Kalau kita perhatikan 1 buah ubin itu seperti peta yang melukiskan beberapa pulau yang dipisahkan dengan selat-selat.

Suatu hari, saat aku memegang tiang memutar-mutarkan badan dan agak lelah sedikit, aku berhenti dan melihat seorang yang sudah berumur namun masih terlihat gagah berjalan didepanku dan mengucapkan salam, “assalamu alaikum”.

Aku sendiri bingung melihat hal itu. Kepada siapakah orang itu mengucapkan salam. Ku tengok sekelilingku ternyata tidak ada orang. Rupanya, cuma aku sendirian saja yang ada di situ. Aku terus saja bermain karena merasa tak percaya dan bertanya-tanya dalam hati, “Apa iya orang itu mengarahkan salamnya kepada ku.?” Tak mau pusing, aku biarkan hal itu berlalu begitu saja.

Sepulang salat Jum’at, sesampainya dirumah, bapak ku berkata, “Tadi ada kyai lewat diam ajah…! Nggak salaman…!

Aku tersentak kaget mendengar ucapan ayahku ku itu, “Hah, Kyai!”. Rupanya, itu sosok pak Kyai yang selalu disebut-sebut orang banyak dan aku cari-cari sejak lama karena ingin mengenalinya. Rupanya, bagi seorang Husni junior sulit mengenali sosok pak kyai Noer Ali karena berpakaian serupa dengan kebanyakan orang yang sudah pergi haji.

Saat itu, Husni junior hanya mengenali seseorang dari ciri-ciri umum saja belum kepada ciri-ciri yang spesifik. Dulu, seorang Husni diberitahu bahwa Pak Kyai adalah orang yang berpakaian putih-putih dan biasa memakai sorban. Langsung saja, Husni junior mengira setiap orang yang berpakaian seperti itu adalah Pak Kyai.

Entah usia berapa aku pada waktu kejadian itu. Yang jelas, aku tetap ingat dan selalu bertanya-tanya dalam hati, “apa artinya itu? Kok bisa sih seorang ulama besar yang sudah terkenal luas dalam level nasional maupun internasional mau melontarkan salam kepada seorang “bocah ledok” yang notabene masih kecil dan belum tau apa-apa?”. Tanyaku keheranan. Dan yang membuatku “ngenes” (nyesel banget) adalah aku tidak mencium tangan beliau. Seandainya saja aku jabat tangan beliau saat itu dan sempat berbicara beberapa kalimat, tentu itu menjadi kenangan yang luar biasa.

Selama aku mencari ilmu di pesantren yang ada banyak kyainya dan seabrek ustadz yang tersedia belum pernah aku mengalami seperti itu. Pendek kata, bagiku ini adalah suatu fenomena yang aneh dan sulit diinterpretasikan terlebih oleh aku sendiri.

17 tahun berlalu dari persitiwa itu, akupun sudah menjadi seorang yang menurut Elizabeth Hurlock, pakar psikologi perkembangan, masuk kedalam kategori “remaja akhir”. Namun, pengalaman yang menurutku “aneh” bersama Pak Kyai itu tetap dapat aku ingat. Akupun, Alhamdulillah dapat mengenyam pendidikan dari mulai Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah yang semuanya itu aku tempuh di at-Taqwa putra Ujungharapan Bekasi. Prestasiku disekolah pun cukup membanggakan karena selalu mendapat ranking satu dalam 3 jenjang pendidikan itu, kecuali saat aku duduk di kelas 2 MIA Nurul Falah aku cuma berhasil menduduki tempat kedua karena rangking pertama berhasil diraih oleh temanku Ahmad jumadi yang akrab dipanggil “Ajung” dari kampung irian dekat Wisma Asri. Maaf, kalau sedik show-off.

Menginjak duduk di kelas tiga tingkat Tsanawiyah aku mulai merasakan ada yang nggak normal pada diriku. Gejala-gejala seperti mudah lelah bila melakukan sesuatu yang berat, makan selalu muntah padahal baru beberapa suap, tidur yang selalu bermimpi buruk, serta pandangan mataku yang sering kekunangan. Ini semua membuat pertumbuhan fisikku tidak maksimal, bahkan wajahku terlihat sering pucat dan tubuhku kurus sekali. Juga, kalau berjalan aku selalu ngos-ngosan dan dada terasa sesak walau hanya beberapa langkah.

Berbagai usaha untuk mengobati penyakit seperti ini telah aku lakukan, hingga aku sempat mengkonsumsi obat dalam waktu yang berbulan-bulan. Aku terdiagnosa: kurang darah, penyakit kuning, dan menurut seorang internist aku mengidap penyakit jantung. Ini aku alami hingga aku menyelasaikan studi pada tingkat Madarasah Aliyah. Semua diagnosa pada waktu itu bagiku belum jelas dan masih membingungkan sehingga aku sering dibawa ayahku berobat kemana-mana namun nggak jelas juga kesembuhannya.

Melihat keadaan semacam itu aku berinisiatif menemui dokter ahli penyakit jantung di RS Harapan Kita Jakarta. Alhamdulillah, aku bertemu dengan seorang Cardiologist bernama Dr. Aulia Sani yang berpraktek di rumah sakit itu. Dokter itu rupanya mampu menjelaskan keadaan penyakitku secara gamblang. Menurutnya, aku mengalami penyempitan pada saluran bilik kiri jantung yang mengalir ke serambi kiri jantung sehingga serambi kiri jantungku kurang mendapat supply oksigen secara normal yang mengakibatkan peredaran darah dan oksigen keseluruh tubuh menjadi terhambat. Aku mengalami Mitral Sinusitis Severe yang pengobatannya perlu dilakukan tindakan Balloon Mitral Valve, yaitu pembesaran saluran pada bilik kiri jantungku yang Cuma 0,3 mm pada kala itu. Padahal ukuran orang normal adalah 3-4 mm.

Jelaslah sudah, apa yang aku alami selama itu. Dan aku lebih yakin dan percaya dengan diagnosa dari cardiologist itu ketimbang diagnosa-diagnosa sebelumnya. Namun, untuk pengobatannya itu cukup memakan biaya alias jutaan rupiah. Ongkos itulah yang menjadi pemikiranku saat itu. Bagaimana aku bisa meyakinkan keluargaku terutama orang tua, dan bagaimana aku memperoleh uang sebanyak itu? Sejak itu pula aku merasa Tuhan itu tidak adil dan protes terhadap apa yang menimpaku saat itu.

Akhirnya, saat aku kuliah di semester satu fakultas psikologi UIN Syarif Hidayatullah Ciputat tahun 2000, aku mengalami gangguan kesehatan yang sangat serius dan harus segera diambil tindakan medis berupa Balloon Mitral Valve. Tubuhku jadi membengkak seperti orang kegemukan dan pipiku tembam.

Saat itu aku sempat berobat akupuntur dengan DR. Hembing Wijaya Kusuma, tapi tidak ada perubahan yang berarti. Yang hanya bisa kulakukan adalah berbaring di atas tempat tidur dalam keadaan telentang. Tidak bisa berbaring ke kiri atau ke kanan. Aku hanya pasrah kepada Allah SWT dan membaca istigfar sebanyak yang aku mau.

Akhirnya, melihat keadaan ku yang tidak menentu itu, kakak keduaku ku berinisiatif membawaku berobat ke RS. Jantung Harapan Kita sambil menanyakan kembali surat yang telah dikirim kepadaku beberapa tahun lalu. Rupanya surat itu masih berlaku dan kakak ku pun mengurus dokumen yang diperlukan rumah sakit agar aku bisa di operasi.

Rabu, sore hari aku diinapkan di rumah sakit Harapan Kita. Pihak rumah sakit langsung menanganiku dengan cepat. Sore itupun aku disuruh membersihkan bagian yang paling privacy sekali, yaitu mencukur bersih rambut yang tumbuh di sekitar zona itu. Awalnya, aku kerjakan itu sendiri saja. Rupanya, suster tak gampang percaya dan memeriksa guna memastikan apakah wilayah tersebut benar-benar bersih. “Jadi, gimana rasanya ketika bagian yang paling vital dari tubuhku harus kuperlihatkan kepada orang lain yang berjenis kelamin beda?” Aku sedikit mengalami dilemma. Tapi, akhirnya aku pasrah juga demi tujuan medis.

Keesokan harinya, kamis sekitar pukul tiga sore, aku masuk ke ruang operasi. Semua angota keluargaku yang hadir disitu berharap-harap cemas, nggak tahu apa yang akan dilakukan oleh dokter. Apakah dadaku harus dioperasi by pass seperti orang-orang yang mengalami jantung coroner?

Saat itu, aku sendiri tidak tahu apa yang akan dilakukan tim dokter. Aku hanya pasrah menuruti semua perintahnya. Yang membuat aku terkejut adalah, aku dibiarkan sadar. Aku dapat melihat sendiri apa yang sedang dilakukan oleh dokter. Bahkan, kalau aku mau aku bisa saja menendang mereka satu persatu. Namun yang selalu kuingat adalah kata-kata “diam, dan jangan bergerak sama sekali supaya proses operasi berjalan lancar”. Itulah kata yang seakan membuatku terhipnotis sehingga aku benar-benar tidak bergerak sedikitpun selama operasi dan selama 13 jam setelah operasi. Untuk ngulet saja aku tidak lakukan, apalagi pindah posisi berbaring kiri atau kanan. Aku merasa seakan-akan tubuhku seperti kedebong pisang yg berbaring telentang.

Di pagi harinya, tepatnya jum’at sekitar jam tujuh-an waktu sarapan pun datang. Berdeda dengan keadaan sebelum operasi, ini kali aku makan dengan lahap sekali hingga menghabiskan seluruh makanan yang disajikan. Tetapi, beberapa menit kemudian aku muntah-muntah. Makanan yang baru saja kutelan keluar semua dan menciprati selimut serta sepray yang membalut tempat tidurku. Lalu, suster mengganti sepray dengan yang baru.

“Ini biasa terjadi pada pasien yang habis operasi”. Suster itu menjelaskan kepadaku dan ibuku yang tengah setia terjaga.

Hanya berlangsung empat hari, aku dirawat inapkan di rumah sakit yang terletak di Jl. Jend S Parman daerah Slipi itu, yang kepemilikannya sekarang sudah bukan punya ibu Tin Soeharto lagi.

Hari senin kemudian, aku dan keluarga pulang ke rumah yang berlokasi di Ujungharapan Mushola Nurul Huda. Setibanya, aku langsung melakukan sujud syukur atas apa yang aku alami. Aku merasa seperti burung lepas dari sangkarnya. Bayangkan saja, selama bertahun-tahun aku terkekang dengan penyakit yang aku alami, kini penyakit itu telah pergi. Aku bisa berjalan dengan dada yang lapang tanpa harus ngos-ngosan lagi. Aku bisa melahap makanan tanpa harus muntah lagi. Aku juga bisa tidur tanpa harus bermimpi buruk lagi, dan masih banyak lagi yang lainnya. Meminjam istilah bang H. Rhoma Irama.

Hari pertama masa kesembuhan, aku lalui dengan rasa syukur dan bahagia. Malampun masuk menggantikan posisi sang siang yang sudah kelelahan.

Sebelum beranjak ke pulau kasur, aku ambil buku, media yang biasa ku gunakan untuk menggoreskan pena yang aku miliki. Pikiranku melayang, terbang jauh ke belakang. Aku jadi teringat masa-masa yang telah aku alami. Masa di Aliyah dulu, yang penuh dengan harapan namun belum kesampaian. Saat di Tsanawiyah, yang penuh dengan semangat belajar menyala-nyala. Serta masa ibtidaiyah, yang penuh dengan canda dan gelak tawa. Hingga, aku juga terbayang masa-masa sebelum sekolah.

Akhirnya, aku pun sadar masa dimana aku pernah berjumpa dengan sosok Pak K.H. Noer Ali. Yah, beliaulah orang yang mengucapkan salam itu.

Rupanya, aku baru terengah makna ucapan salam yang ditujukan kepadaku dulu, yaitu do’a keselamatan. Aku telah selamat dari operasi jantung yang aku jalani. Aku telah keluar dari masa-masa sulitku. Aku telah terhindar dari biaya operasi yang menelan dana puluhan juta rupiah. Bahkan lebih dari itu, aku telah sembuh dari stress yang berkepanjangan. Terus, selamat apalagi yah…? (Bercanda.com).

Dari cerita di atas, yang barangkali penuh dengan subjektivitas, ada beberapa hikmah yang bisa aku ambil, diantaranya:

Pertama. Sosok pak K.H. Noer Ali merupakan pribadi yang sangat tawadhu. Dengan segala kehebatan yang beliau miliki, masih mau berinisiatif memberi salam terlebih dahulu kepada orang yang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapanya beliau. Saya melihat ini keteladanan yang luar biasa yang ditunjukkan oleh pribadi yang sudah sangat tersohor. Beliau rela menyingkirkan sikap “gengsi” untuk berbuat baik kepada siapa saja tanpa memandang status sosial, tingkat pendidikan, kemapanan ekonomi, bahkan tingkat usia. Mungkin, di jaman sekarang sulit rasanya ditemukan seorang kelas atas mau menunjukkan kerendahan hatinya kepada seorang kelas bawah, seperti memberi salam terlebih dahulu atau meluangkan waktu hanya untuk sedikit mendengar apa kabarnya.

Kedua. Pak K.H. Noer Ali merupakan pribadi yang visioner dan futuristic. Ini dapat kurasakan saat beliau pertama kali jumpa denganku pada waktu aku masih “bocah ingusan” di depan masjid at-Taqwa itu. Beliau mengucapkan, “Assalamu alaikum” langsung kepadaku dengan tutur kata yang sungguh-sungguh.

Sebagaimana kita ketahui rangkaian kata salam tersebut bermakna “Keselamatan atas kamu”. Berarti, Pak K.H. Noer Ali secara langsung mendoakan keselamatan atas diriku. Apa yang mendorong beliau berinisiatif memberi salam terlebih dahulu?

Secara kultur sosial, jarang sekali bahkan mungkin tidak ada orang yang lebih tinggi status sosialnya, lebih luas keilmuannya, serta lebih sepuh usianya memberi salam terlebih dahulu kepada orang yang lebih rendah status sosialnya, lebih sempit keilmuannya, dan jauh lebih muda usianya, apalagi terhadap “bocah ledok” yang sehari-harinya suka nyari kodok di galengan sawah. Aku yakin, karena kemampuan beliau dalam melihat perjalanan hidupku itulah yang membuat beliau mendoakan. Aku sangat yakin beliau tahu gambaran kehidupanku kedepan. Beliau dapat membaca apa yang akan aku alami di masa remaja dan masa dewasaku kelak. Ternyata itu benar. Memasuki periode remaja dan dewasa awal, aku mengalami gangguan kesehatan yang cukup serius.

Menurut cardiologist yang bernama Dr. Aulia Sani, yang menjabat direktur RS. Harapan kita, penyakit Mitral Sinusitis yang aku derita sebenarnya sudah ada sejak aku terlahir ke dunia, meskipun aku baru merasakannya saat menginjak usia remaja karena dalam periode perkembangan ini aktivitasku sudah meningkat bukan hanya yang bersifat otot namun juga bersifat otak. Bekerja dan berpikir sudah menjadi rutinitas sehari-hari.

Aku terdorong untuk mengatakan bahwa Pak K.H. Noer Ali sebenarnya tahu bahwa saat kecil itu aku memang sudah mengidap penyakit Mitral Sinusitis, salah satu jenis penyakit jantung dan logis rasanya kalau beliau mengucapkan do’a keselamatan (salam) kepadaku.

Ketiga. Kekuatan makna yang terkandung dalam kalimat “assalamu alaikum” itu luar biasa, punya durasi yang sangat panjang, boleh dibilang everlasting. Bandingkan saja dengan ucapan “selamat siang”, yang hanya berdurasi pada siang saja. Kita dido’akan oleh orang atau mendo’akan orang cuma selama waktu masih siang, sedangkan waktu malam belum tentu, apalagi terpikir pagi hari. Itulah hebat dan indahnya ucapan salam dalam Islam, apalagi jika diucapkan oleh orang yang punya kapasitas ketaqwaan dan kedekatan yang luar biasa dengan Allah SWT.

Jika dihubungkan dengan cerita diatas, berarti seorang “bocah ledok” yang sudah terkena penyakit itu didoakan oleh Pak Kyai, sejak saat pertama kali jumpa hingga masa sembuhnya yang lebih kurang tujuh belas tahun lamanya dan bisa jadi sampai saat ini.

Pantas saja, “bocah itu” tetap survive dengan segala penderitaan yang dialaminya. Saya pribadi yakin, do’a dari seorang ulama besar itu punya validitas dan realibilitas kemaqbulan yg cukup tinggi. Sebab, menurut para psikolog, orang yang sakit fisik selama bertahun-tahun yang tak kunjung sembuh itu cenderung akan sakit pula mentalnya, seperti: terlalu sering mengeluh, merasa bosan hidup, atau yang lebih tragis lagi ingin bunuh diri. Naudzubillah min tilka.

Banyak penelitian dibidang psikologi yang mengungkap masalah ini. Nyatanya, walau perasaan-perasaan negative seperti tersebut diatas pernah dialami bocah itu, namun dia mampu bertahan dan terhindar dari gejala-gejala neurosis atau psikosis ataupun commit to suicide.

Seorang tokoh besar sekaligus pahlawan nasional seperti Pak K.H. Noer Ali, secara objektif, sepak terjang nya memang diakui oleh berbagai kalangan manusia dari berbagai penjuru dunia. Ini diakui oleh kawan dan lawan politik beliau, baik di dalam kancah nasional maupun internasional. Riwayat kehidupan beliau bukan saja harum dikalangan orang tua atau orang yang hidup pada jaman seusianya, tapi juga semerbak dikalangan anak yang masih muda belia, terlebih buat orang yang pernah berjumpa dan mendapat do’a keselamatan darinya.

Wallahu A’lam.

Emhusni

www.lintas-copas.blogspot.com