Minggu, 02 Desember 2012

Penjelasan Resmi Tentang Tim Khusus Riset BENCANA KATASTROPIK PURBA

BENCANA KATASTROPIK PURBA
Inilah Penjelasan Resmi Tentang Tim Khusus yang Dibentuk Kantor Andi Arief

Oleh Erick Ridzky


Pekan lalu, dalam seminar internasional yang dihadiri para penstudi Indonesia dari sejumlah universitas terkemuka dunia yang diselenggarakan di Bali, Tim Bencana Katastropik Purba ini kembali membeberkan maksud dan tujuan pembentukannya.Catatan Redaksi: Setahun sudah tim khusus yang dibentuk Kantor Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) ini bekerja. Sejauh ini, tim yang dibentuk Andi Arief itu menghasilkan sejumlah studi yang penting dalam mitigasi bencana. Di sisi lain, tim ini juga menuai kontroversi, dan dituding mencari sensasi.

Berikut adalah penjelasan yang disampaikan pimpinan Tim Bencana Katastropik Purba, Erick Ridzky, yang juga salah seorang Asisten SKP BSB. Selamat mengikuti. ***

RENTETAN kejadian bencana alam besar di tanah air mulai dari bencana gempa-tsunami Aceh di tahun 2004 sampai bencana tsunami di Mentawai pada bulan September 2010 lalu menunjukan betapa dahsyatnya proses alam ini.

Sebagai mahluk yang berakal manusia harus berupaya untuk menjaga kelangsungan hidupnya di masa datang. Oleh karenanya, meneliti sumber-sumber ancaman bencana dan jejak-jejak peradaban masa lalu yang musnah karena dilanda bencana alam diharapkan dapat memberikan solusi untuk memperkuat ketahanan nasional dalam menghadapi ancaman bencana di masa depan.

Studi bencana alam katastropik purba untuk penguatan ketahanan nasional dalam menghadapi ancaman bencana di masa datang. Tim ini mencoba mengkaji fenomena dan dinamika alam yang mempunyai dua sisi: memberi rahmat berupa kekayaan alam dan tempat tinggal, dan memberi bencana karena proses-proses alam yang destruktif, termasuk kejadian gempa, letusan gunung api, dan tsunami. Sudah banyak bukti ilmiah tentang peradaban di masa purba yang hancur sebagian atau total karena dilanda bencana katastropik.

Dalam ilmu kebumian dikenal satu konsep utama, yaitu the past is the key to the future.

Untuk mitigasi bencana alam, hal ini diterjemahkan sebagai upaya memahami ancaman bencana di masa datang. Kita harus belajar dari bencana alam yang sudah pernah terjadi di masa lampau.

Bencana alam adalah produk dari siklus (proses) alam, seperti siklus gempabumi, siklus letusan gunung api, siklus gerakan tanah, siklus banjir dari skala kecil sampai dengan skala sangat besar atau katastropik. Sejarah peradaban manusia mencatat bahwa baik di wilayah Nusantara ataupun dunia banyak sekali peradaban kuno yang runtuh bahkan seperti lenyap dari muka bumi karena peristiwa bencana alam katastropik.

Selama 10 tahun terakhir, Indonesia dilanda oleh berbagai macam bencana alam yang mengakibatkan korban jiwa mencapai ratusan ribu dan kerugian material yang sangat banyak. Tragedi fenomenal dari tsunami besar di Aceh tahun 2004 misalnya, adalah contoh konkret masa kini tentang bagaimana suatu bencana alam dapat menghancurkan sebagian besar peradaban di Banda Aceh hanya dalam tempo sekejap saja.

Sebelumnya masyarakat, khususnya di wilayah Aceh, hampir tidak mengenal kata tsunami sehingga sama sekali tidak siap menghadapi bencana tsunami. Padahal dalam perbendaharaan di Aceh ada kata Ieu beuna yang artinya air bah besar.

Di tempat lain, pulau Simelue misalnya, masyarakat masih ingat akan peristiwa bencana besar tsunami di masa lalu, karena kejadiannya belum begitu lama, yaitu tahun 1907. Sehingga orang Simelue yang masih mengenal tsunami atau smong bisa menjadi lebih siap dan banyak yang selamat ketika peristiwa tsunami Aceh tahun 2004 terjadi.

Penelitian yang dilakukan oleh Tim Bencana Katastropik Purba bersama peneliti gempa dan tsunami dari Earth Observatory of Singapore (EOS) dan LIPI bekerjasama dengan Arkenas berhasil menguak fakta bahwa ternyata banyak sisa bangunan kota kuno yang berada beberapa meter di dasar laut di lepas pantai Ujong Batee, Aceh Besar.

Data eskavasi geologi dan radiometric dating diketahui bahwa kota kuno tersebut musnah diterjang tsunami besar pada abad 14.

Pembelajaran mengenai sejarah bencana alam di masa lalu, dan upaya untuk mengurangi dampaknya menjadi hal yang penting guna meningkatkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana dimasa mendatang. Jadi seharusnya masyarakat di sana dapat belajar dari sejarah bencana alam di masa lalu sehingga bisa bersiap diri.

Kurangnya data sejarah dari kejadian bencana alam di masa lalu, di bumi Nusantara menyebabkan masyarakat tidak berdaya dan kehilangan memori akan pengalaman dan kearifan dari masa lalu.

Rentetan kejadian gempa besar dan tsunami kemudian terjadi secara berantai setelah tahun 2004, termasuk kejadian gempa Nias tahun 2005, gempa Jogya tahun 2006, gempa-tsunami Pangandaran tahun 2006, gempa-tsunami Bengkulu tahun 2007, dan terakhir gempa-tsunami Mentawai yang terjadi pada bulan September 2010.

Pada tahun 2006, masyarakat Jogja juga tidak siaga terhadap ancaman bencana gempabumi, karena sebagian besar masyarakat menganggap wilayah ini aman dari bencana gempa. Padahal, bencana gempa serupa dengan kekuatan lebih besar, pernah terjadi pada tahun 1857 menewaskan sekitar 500 orang.

Kita menyaksikan bagaimana letusan gunung merapi tahun 2010 yang dahsyat tersebut kembali memporakporandakan wilayah Jogyakarta setelah gempa tahun 2006. Semburan awan panas gunung api atau piro-klastika atau dikenal sebagai wedus gembel menewaskan banyak jiwa dalam sekejap. Demikian juga muntahan abu dan limpahan lahar dingin mengancan jiwa dan kesehatan penduduk setempat.

Candi Borobudur yang sekarang menjadi kebanggaan nasional dan termasuk kedalam salah satu keajaiban dunia sebelum ditemukan pada abad 18, tertimbun oleh endapan gunung api muntahan dari Gunung Merapi yang sudah menjadi hutan sehingga sukar dikenali.

Kenapa candi besar ini sampai terlantar dan ditinggalkan orang sampai saat ini masih misteri. Namun boleh jadi endapan gunung api yang menutupinya adalah saksi dari sebuah peristiwa letusan gunung Merapi yang sangat besar di masa purba sehingga membinasakan seluruh masyarakat di sekitarnya.

Candi Borobudur menjadi saksi bisu tentang punahnya peradaban masa lalu karena letusan gunung berapi.

Indonesia, sebagai bagian dari ring of fire dan active tectonic lempeng Indo Australia dan lempeng Eurasia, serta lempeng Pacific, adalah negeri yang dipenuhi oleh gunung api, gempabumi, dan potensi tsunami cukup rentan.

Sejarah mencatat banyak letusan gunung api terbesar terjadi di Indonesia. Yang paling fenomenal adalah letusan gunung raksasa Toba yang terjadi sekitar 74.000 tahun lalu. Kaldera yang terbesar di dunia dari sisa letusan gunung api jaman kuno ini sekarang dikenal masyarakat sebagai Danau Toba.

Pada kejadian letusan katastropik Toba itu, diperkirakan terjadi pemusnahan massal dari populasi hingga 70 persen mahluk hidup di seluruh dunia, termasuk manusia. Hanya sebagian kecil yang dapat survive.

Meskipun demikian, tidak ada data yang cukup untuk mengetahui dengan jelas apa yang terjadi pada peradaban manusia sebelum dan sesudah letusan Toba. Ilmu pengetahuan hanya tahun bahwa paling tidak sejak sekitar 90.000 hingga 100.000 tahun lalu bumi sudah dihuni oleh mahluk berakal dan mengenal Tuhan, seperti kita. Dan sampai saat ini para ilmuwan sedunia percaya bahwa sampai sekitar 10.000 tahun lalu bangsa manusia masih hidup di jaman batu, alias hidup di alam, di hutan-hutan dan goa-goa seperti hewan.

Letusan gunung api katastropik lainnya adalah letusan Gunung Krakatau Purba. Catatan mengenai letusan Krakatau Purba yang diambil dari sebuah teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa yang diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi.

Ledakan katastropik ini menghancurkan tiga perempat tubuh Krakatau Purba, hancur menyisakan kaldera (kawah besar) di Selat Sunda. Sisi-sisi atau tepi kawahnya dikenal sebagai Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung. Penelitian tentang letusan gunung Krakatau Purba ini masih sangat sedikit, sehingga data ilmiah yang adapun sangat minim, termasuk tentang kapan peristiwa ini terjadi.

Para peneliti geologi hanya bisa memperkirakan bahwa Gunung Krakatau Purba sebelum meletus mencapai ketinggian 2.000 meter di atas muka laut, jauh lebih besar dan tinggi dibandingkan dengan Krakatau sebelum meledak tahun 1883, yaitu hanya setinggi 813 meter di atas muka laut.

Padahal letusan Krakatau yang terjadi 1883 saja mengakibatkan tsunami setinggi 40 meter, dan membunuh lebih dari 36.000 jiwa pada saat itu. Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya letusan “Embah Krakatau” pada zaman kuno tersebut.

Fakta ilmiah memperlihatkan bahwa zaman es terakhir terjadi sekitar 20.000 tahun lalu, dimana permukaan laut waktu itu sekitar 130 meter di bawah muka laut sekarang. Oleh karena itu, Pulau Sumatra-Jawa-Kalimantan masih merupakan satu pulau (daratan) besar.

Selama ribuan tahun kemudian, air laut naik perlahan-lahan sampai sekitar 60 meter di bawah muka laut sekarang pada zaman sekitar 12.000 tahun lalu. Dari sekitar tahun 11.600 tahun lalu data geologi mencatat, kenaikan muka air laut tiba-tiba atau yang sangat cepat dalam beberapa tahap, sampai muka air laut setinggi sekitar hanya 5 meter dari muka laut sekarang pada masa sekitar 7000 tahun lalu.

Pada masa ini Pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan sudah terpisah dan wilayah bekas dataran rumput purba di Laut Jawa yang ketika itu diairi oleh sungai besar dan dikelilingi oleh dataran tinggi dan gunung-gunung api nan elok, sudah seluruhnya digenangi laut.

Ada hipotesa yang mengatakan bahwa kenaikan muka air laut cepat pada sekitar 11.600 tahun lalu itu berkaitan dengan letusan Krakatau Purba, namun sampai sekarang belum ada penelitian untuk pembuktiannya. Demikian juga tentang keberadaan peradaban Indonesia kuno sebelum dan setelah letusan yang diceritakan oleh Pustaka Raja Parwa tersebut.

Baru-baru ini dua ilmuwan dunia, yaitu (almarhum) Profesor Arsyo Santos dan Profesor Stephen Openheimer mempublikaskan hipotesanya yang mengatakan bahwa daratan Atlantis yang tenggelam itu adalah Daratan Sunda.

Mereka percaya bahwa letusan Krakatau berkaitan dengan musnahnya Kerajaan Kuno pada sekitar 11.600 tahun lalu tersebut. Namun belum ada data dan analisis ilmiah yang cukup untuk mendukung hipotesanya ini. Terlebih lagi sampai saat ini ilmuwan di seluruh dunia masih meyakini bahwa sampai 10.000 tahun lalu dunia masih ada dalam jaman batu, belum ada peradaban maju.

Peradaban yang kita kenal sekarang baru mulai berkembang pesat sejak sekitar 8000 tahun lalu.

Sejarah dan fakta geologi sudah banyak memberikan pelajaran tentang bagaimana kejadian bencana alam di masa kuno dapat memusnahkan peradaban manusia.

Boleh jadi, para leluhur nusantara juga meninggalkan berbagai catatan-catatan yang belum tersentuh tentang pengalaman berhara, nasihat-nasihat atau bahkan teknik-teknik jitu dalam menghadapi berbagai bencana alam yang pernah terjadi di zaman mereka.

Adalah tugas kita untuk menggalinya. Konsep siklus alam mengajarkan bahwa segala apa yang pernah terjadi di masa lampau pasti akan terjadi lagi di masa datang.

Pertanyaannya, sudah cukupkah kita belajar dan sudah siapkah kita?

www.lintas-copas.blogspot.com