Minggu, 16 Desember 2012

Perempuan Tangguh di Dunia Bisnis Indonesia


KIPRAH perempuan Indonesia di kancah bisnis kini sudah tidak diragukan lagi. Saat ini kian banyak perempuan yang memainkan peran penting di dunia bisnis, khususnya di kursi eksekutif.

Ya, perempuan dan bisnis seakan menjadi topik yang tidak ada habisnya. Ada kalangan yang masih meragukan kepatutan perempuan duduk di puncak korporasi. Tetapi, tidak sedikit pula yang berasumsi sebaliknya.

Saatnya perempuan terus berkarya di kancah bisnis. Sebuah studi bertajuk A Woman’s Nation Changes Everything yang dirilis Maria Shriver dan The Center for American Progress akhir tahun lalu sangat layak disimak.

Di mana dalam laporan tersebut diungkapkan fakta bahwa separuh dari karyawan di Amerika Serikat (AS) perempuan. Tidak sedikit yang justru menduduki posisi puncak di perusahaan. Nah, bagaimana dengan perempuan Indonesia?

Perempuan Indonesia terus memperlihatkan perannya di sektor ekonomi. Hal ini dibuktikan dengan adanya sejumlah perempuan Indonesia yang menduduki jabatan penting di perusahaan besar. Sebut saja Felia Salim, Wakil Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI).

Felia berperan penting dalam pengambilan kebijakan bank pelat merah tersebut. Jabatan ini diemban Felia sejak 6 Februari 2008. Sebelum memegang jabatan ini, Felia sudah melanglang buana di sejumlah posisi strategis bidang keuangan seperti menjabat komisaris BNI sejak 2004 hingga 2008. Pada periode 1994–1999, Felia mengemban amanah di PT Bursa Efek Jakarta dengan menjabat posisi direktur.

Peraih gelar Bachelor of Arts dari Carleton University (1983) ini juga pernah menjadi Ketua Sekretariat Komite Kebijakan Sektor Keuangan (2000–2001) dan Deputi Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (2001).

Tidak hanya sampai di situ, portofolio karier Felia juga diisi dengan jabatan Pjs Executive Director Partnership Governance Reform (2002) dan Pjs Executive Director Tifa Foundation (2003).

Jabatan lainnya sebagai Komisaris Independen Good Year (mulai 2003), Advisory Board–Financial Governance Technical Support AUSAID (mulai 2004), dan Ketua Governing Board of The Partnership for Governance Reform (mulai 2004), dan Komisaris Independen (2004-2008).

Tokoh wanita lain yang juga tak kalah suksesnya di pucuk pimpinan korporasi adalah Aviliani. Namanya memang sudah akrab dalam dunia ekonomi Indonesia. Maklum, Komisaris Independen Bank Rakyat Indonesia (BRI) sejak 2005 ini sudah lama dikenal sebagai pengamat ekonomi.

Wanita kelahiran Malang 16 Desember 1961 ini merupakan peneliti di Institute for Development of Economics and Finance (Indef) sejak 1995. Perempuan yang akrab dipanggil Mbak Avi ini pernah menjabat sejumlah jabatan akademis seperti Ketua Jurusan Manajemen FE Universitas Paramadina (2002–2005), Pembantu Ketua II STIE Perbanas (2000–2002), dan Wakil Direktur Penelitian dan Pengabdian STIE Perbanas (1997-1999).

Kepiawaian Aviliani dalam bidang ekonomi pernah mengantarkannya menjadi moderator debat presiden pada Pemilu 2009. Saat ini Aviliani juga ditunjuk sebagai Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) yang dibentuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa bulan lalu.

Nama Parwati Surjaudaja semakin menambah panjang daftar top eksekutif perempuan di Tanah Air. Parwati menjabat sebagai Presiden Direktur Bank OCBC NISP sejak 2008. Sebelumnya dia menjabat sebagai Wakil Direktur Bank NISP yang dijalaninya sejak 1997.Sebelumnya Parwati menjabat Direktur Bank OCBC NISP, yang kala itu masih bernama NISP (1990-Juni 1997).

Peraih gelar MBA dan BSc dari San Fransisco State University Amerika Serikat (AS) ini juga pernah menjadi konsultan senior di SGV Utomo/Arthur Andersen (1987-1990). Perjalanan Bank NISP berkembang pesat selepas krisis ekonomi yang mendera Indonesia pada 1998. Hal ini pun menarik minat Bank OCBC Singapura dan membeli 74,73 persen saham NISP.

Pembelian ini membuat nama bank berubah menjadi OCBC NISP seperti yang sekarang dikenal. Sejumlah perubahan pun dilakukan. Daftar perempuan berpengaruh di kancah bisnis Indonesia makin panjang dengan munculnya Friderica Widyasari Dewi yang menjabat Direktur Pengembangan Usaha Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kehadiran perempuan yang akrab dipanggil Kiki di jajaran direksi menjadikan BEI lebih berwarna. Sebelumnya alumnus Universitas Gadjah Mada ini sudah lama dikenal sebagai artis dan model. Sebelum masuk dalam jajaran direksi, dia pernah menjabat Corporate Secretary BEI. Karena itu, Kiki wajar jika fasih menjelaskan berbagai istilah dunia keuangan yang rumit.

Dia juga tak segan bekerja keras untuk membantu memulihkan pasar modal Indonesia yang terkena imbas krisis global sehingga indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI terpangkas habis. Dunia Kiki saat ini tentu berbeda dengan dunia yang digelutinya pada era 1990-an.

Saat itu dia lebih dikenal dalam dunia hiburan sebagai artis dan model. Dunia yang penuh glamor ini ditinggalkan kala dia melanjutkan studi di California State University, Fresno, AS pada awal 2000.

Usai meraih gelar MBA pada 2004, dia memutar haluan kariernya ke Bursa Efek. Wanita kelahiran 28 November 1976 ini mengaku makin mencintai dunianya saat ini. Dalam blog pribadinya dia menulis “Bagiku, hidup ini seperti air sungai, mengalir.”

Nama Karen Agustiawan tentu tidak bisa dilepaskan jika berbicara mengenai top eksekutif wanita. Maklum, Karen adalah sosok perempuan Indonesia yang membuat sejarah baru di dunia bisnis perminyakan.

Dia adalah wanita pertama yang menduduki kursi Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina. Sebelum menjabat Dirut Pertamina, Karen sudah melewati karier panjang dalam dunia perminyakan.

Wanita kelahiran Bandung 19 Oktober 1958 ini usai me-nyelesaikan studinya di Institut Teknologi Bandung pada 1983 langsung terjun di bisnis perminyakan dengan bergabung bersama MobilOil Indonesia.

Dia menjabat analis dan programmer dalam pemetaan sistem eksplorasi. Sukses di posisi ini, pada 1987 Karen menjadi Seismic Processor and Quality Controller MobilOil Indonesia untuk beberapa proyek seismik Rokan, Sumatra Utara, dan Madura. Pengalaman kerja di luar negeri dirasakan Karen ketika pada 1989 dia diboyong MobilOil Dallas ke AS.

Sampai akhirnya Karen ditarik ke Indonesia pada 1992 dan menjadi Project Leader di bagian Eksplorasi MobilOil yang menangani seluruh aplikasi studi G&G dan infrastruktur yang dijalaninya sampai 1993. Sejumlah jabatan lain dilakoni Karen di perusahaan perminyakan dan oli hingga pada 2008 ketika Ari H Soemarno, Dirut Pertamina kala itu, mengangkatnya sebagai Staf Ahli Dirut.

Kemudian dia diangkat sebagai Direktur Hulu PT Pertamina. Hingga akhirnya menduduki kursi orang nomor satu di Pertamina dan mencatat sejarah baru.
okezone.com

www.lintas-copas.blogspot.com