Sabtu, 01 Desember 2012

PERPUSTAKAAN BATU DI PERU dan BENUA ATLANTIS dan MU

(Disarikan dari Tulisan Apep wahyudin 2008)

Padaawal tahun 40-an (ketika sedang berkecamuk perang dunia ke-2), empat orang tentara sewaan dari Amerika sedang berusaha untuk menyelamatkan diri mereka setelah usaha mereka untuk melancarkan suatu revolusi itu berhasil ditumpas impas. Peristiwa tersebut terjadi di Equador, Amerika Selatan. Jalan keluar untuk menyelamatkan diri mereka dari kecamuk perang yang sedang berlangsung ialah dengan menyeberangi samudera rimba belantara Amazon yang luas dan masih perawan—belum pernah diselidiki oleh tim ekspedisi manapun juga. Keempat tentara sewaan itu tersesat di dalam hutan rimba yang lebat; suatu daerah yang rawan dan penuh bahaya mengancam dari suku-suku kanibal yang masih hidup berkeliaran. Mereka memasuki suatu kawasan yang dikuasai oleh suku Indian Jibaro—suku yang buas dan masih memakan daging manusia dan tersohor dengan teknik mengerutkan tengkorak kepala manusia hingga menyusut sebesar jeruk. Di dalam rimba belantara itulah, para tentara sewaan itu menemukan suatu rahasia—yang dikemudian hari mereka pendam selama kurang lebih 30 tahun lamanya. Rahasia itu terungkap karena salah seorang dari mereka menceritakan kepada dunia sebelum ia meninggal dunia. Lalu apa sebenarnya yang mereka lihat itu?



seperti Mesir Kuno. Yang menarik perhatian mereka ialah gambar seseorang yang diusung di atas sebuah singgasana. Pakaian yang dikenakan oleh orang yang duduk di singgasana itu demikian aneh untuk jaman itu. Pakaian yang dikenakannya itu mirip-mirip kostum Buck Rogers (tokoh ala Flash Gordon yang sangat populer pada tahun 1940-an). Sinar matahari mulai perlahan meredup; sinarnya dipantulkan oleh gambar dari dua orang yang duduk di sebelah orang yang berada di atas singgasana. Salah satu dari gambar itu mirip figur seekor gorila raksasa.

Di langit-langit juga terdapat beberapa lukisan lainnya yang sama-sama sangat mengejutkan. Di lukisan itu digambarkan sebuah kendaraan yang mirip “piring terbang”. Setelah melihat semua itu, para tentara bayaran itu merasakan suatu perasaan aneh. Mereka mempunyai firasat bahwa mereka telah memasuki suatu tempat yang sangat keramat. Mereka akhirnya memutuskan untuk tidak masuk lebih dalam lagi ke dalam piramida itu. Mereka segera bergegas meninggalkan tempat itu secepat mungkin. Bangunan-bangunan itu selama kurang lebih 30 tahun mereka rahasiakan keberadaannya. Itu tampaknya hanya akan menjadi rahasia pribadi mereka saja sampai salah seorang dari mereka memutuskan untuk bicara. Sampai saat ini, kita masih menunggu suatu penyelidikan yang serius untuk meneliti hakikat yang ada di balik bangunan aneh dan perkasa itu.

Dari 4 orang tentara sewaan itu, dua diantaranya mati di dalam rimba. Sisanya yang dua berhasil kembali ke Amerika Serikat, tetapi keduanya kini sudah meninggal pula. Kisah ini mengandung seluruh romantika dan misteri dari monumen-monumen bangsa-bangsa yang sudah punah di Amerika Tengah dan Selatan seperti suku Inca, Maya, Aztec, dan lain-lain. Dengan satu perbedaan, piramida di Parada itu disembunyikan demikian rapih oleh alam, sehingga memberikan kesan bahwa memang ada maksud tertentu.

Pihak NASA (badan antariksa AS) disinyalir dan diketahui memiliki foto-foto yang dibuat melalui penginderaan satelit. Foto-foto tentang apa yang nampak seperti 14 buah piramida yang tersebar di seluruh daerah Amazon. Sayang sekali NASA tidak atau belum mau memperkenalkan foto-foto tersebut kepada umum.



PERPUSTAKAAN BATU DI PERU



Dari semua negara Amerika Selatan, negara Peru kemungkinan merupakan negara yang paling banyak memiliki lokasi misterius dari zaman kuno. Di daerah inilah terdapat kebudayaan-kebudayaan kuno misterius yang pernah terlupakan—termasuk kebudayaan Inca—yang tidak hanya berhasil menyatukan daerah itu tetapi juga menciptakan salah satu sistem sosiologi yang dianggap paling sempurna yang pernah ada di planet Bumi ini. Salah satu ekspedisi penyelidikan yang paling menakjubkan ialah yang dipimpin oleh seorang peneliti bernama Gene Savoy antara tahun 1957 sampai tahun 1971. Savoy menemukan sejumlah kota dan kuil kuno (yang sama seperti halnya piramida-piramida Maya) terselimuti oleh hutan belukar selama beberapa abad lamanya.

Pengalaman Savoy itu dapat kita baca dalam 3 jilid buku—yang paling terkenal dari ketiganya ialah “On the Trail of the Feathered Serpent”.



Sementara itu kunci dari misteri jaman-jaman yang menghilang itu mungkin sekali terletak di dalam 11,000 potong batu berukir yang kini merupakan semacam musium pribadi dari seorang peneliti luar biasa yang bernama Dr. Javier Cabrera. Bukti-bukti tentang adanya suatu kebudayaan yang berlainan sama sekali memang bisa demikian “mengejutkan”, sehingga tidaklah mengherankan apabila organisasi-organisasi palaeontologi dan purbakala yang resmi secara sistematis mengabaikan penyelidikannya. Kisah perpustakaan batu itu dimulai pada tahun 1966, ketika seorang kawan Dr. Javier Cabrera menghadiahkan sepotong batu berukir kepadanya.



Dr. Cabrera merasa heran dan tertarik pada seekor makhluk pra-sejarah yang terukir pada batu tersebut (seperti kita ketahui pengetahuan tentang anatomi makhluk pra-sejarah itu baru kita dalami belakangan ini). Ia menanyakan asal-usul dari batu tersebut dan akhirnya mengetahui bahwa penduduk dari desa Ocucaje yang biasa menjual batu-batu semacam itu dengan harga beberapa dollar per potong kepada para turis yang singgah untuk berlibur melepas lelah. Sekitar awal tahun 1970-an, Dr. Cabrera akhirnya berhasil memperluas koleksi batu-batuan berukir itu hingga mencapai ribuan potong. Di antara batu-batu itu ada yang beratnya sampai ratusan kilogram. Menurut perkiraan Dr. Cabrera, kurang lebih ada sekitar 40,000 buah potong batu berukir yang tersebar di seluruh Peru dan dunia luar yang berasal dari daerah yang sama. Sejak pertama kali ia melihat batu itu,



Dr. Cabrera merasa curiga bahwa batu itu merupakan bagian dari suatu perpustakaan lengkap yang ditinggalkan oleh suatu peradaban yang sangat tua usianya. Ia kemudian menjadikan tumpukan batu itu sebagai objek penelitiannya dan ia mencoba untuk memecahkan sandi perpustakaan batu itu; ia menjadikan semua itu tujuan hidupnya. Diantara kesimpulan-kesimpulan yang ia peroleh dari studi itu ialah:



- Perpustakaan itu disusun dalam beberapa bagian atau seri untuk aneka macam subjek, misalnya kedokteran, astronomi, astronautika, fauna pra-sejarah, benua-benua kuno, biologi, dan pengetahuan tentang bangsa-bangsa yang hidup di planet Bumi ini. Selain itu pula memuat data-data mengenai bencana dasyhat yang pernah dialami manusia di Bumi serta exodus atau peristiwa pengungsian makhluk hidup, manusia, ketika mereka meninggalkan planet Bumi.

- Peradaban ini sangat maju dan pengetahuannya serta teknologi yang dikuasainya termasuk pengetahuan mengenai “burung mekanis” atau kapal udara dan kapal angkasa. Selain itu juga tentang pencakokan organ tubuh termasuk otak. Perpustakaan batu itu juga memuat pengetahuan tentang astronomi yang sangat maju dan mengetahui di bagian mana dari alam semesta ini yang terdapat kehidupan.



- Menurut perpustakaan itu, dahulu kala planet Bumi ini mempunyai dua buah bulan kecil di samping bulan yang sampai sekarang ini masih menyertai planet Bumi (jadi diketahui bahwa dahulu planet Bumi kita ini memiliki tiga buah bulan sebagai satelitnya). Tetapi manipulasi energi elektromagnetik melalui sejumlah piramida di lingkaran Equador itu menghilangkan keseimbangan magnetik dari kedua bulan kecil itu dan menyebabkan kedua buah bulan itu jatuh ke Bumi.

- Tabrakan yang terjadi itu sering disinggung oleh Velikovsky, Otto Muck, Gurdjieff, dan lain-lain.

Empat di antara tumpukan perpustakaan batu itu melukiskan belahan Bumi yang memperkuat teori adanya BENUA ATLANTIS dan MU. Namun kehancuran kedua benua legendaris itu terjadi pada jaman yang lebih tua daripada yang diperkirakan. Tetapi dampak traumatisnya sampai sekarang masih tetap tertinggal dalam legenda-legenda dan mitos-mitos yang disampaikan dari generasi ke generasi berikutnya.



- Peradaban ini telah mencium adanya suatu petaka dasyhat yang pada waktu itu akan menimpa Bumi; oleh karena itu mereka memutuskan untuk meninggalkan planet Bumi untuk menghindari kejadian itu. Paling tidak golongan elitnya yang meninggalkan planet Bumi memilih sebuah planet yang cukup dekat dengan Bumi.

Dr.Cabrera mengakui bahwa ia memiliki sebuah potongan batu yang menggambarkan belahan bola dari planet itu. Nampaknya umat manusia pra-sejarah itu telah meninggalkan suatu warisan lengkap tentang pengetahuan dan pengalaman mereka dalam bentuk perpustakaan batu, sebelum meninggalkan planet Bumi ini.





JARINGAN TEROWONGAN BAWAH TANAH



Legenda-legenda kuno menyebutkan adanya jaringan-jaringan terowongan bawah tanah yang jaraknya bisa mencapai ratusan kilometer panjangnya malang melintang di seluruh kawasan Equador Selatan, Peru, Bolivia, dan Chili Utara. Bangsa Inca pun ternyata tidak tahu tentang asal usul terowongan panjang di bawah tanah itu. Mereka tidak tahu siapakah yang membangunnya meskipun mereka tahu secara pasti letak pintu-pintu masuk dari terowongan-terowongan tersebut.



Madam Blavatsky, di era tahun 50-an, berkunjung ke Arica, Peru. Dalam catatan perjalanannya, ia melaporkan sebagai berikut: “Kami tiba di Arica pada waktu senja, waktu matahari mulai tenggelam menjelang malam. Kami pada waktu itu tercenggang melihat sebuah batu raksasa yang hampir berbentuk segi empat wujudnya. Batu itu berdiri sendiri dalam kesepian pantai, seolah-olah tak ada hubungannya dengan Pegunungan Andes. Ini adalah makam bangsa Inca. Ketika sinar matahari terakhir menyinari permukaan batu tersebut kita bisa melihat hierogliph aneh (sebentuk tulisan atau simbol yang dipergunakan oleh manusia jaman dahulu sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan informasi dalam bentuk tulisan) terukir pada permukaan batu tersebut.



Konon batu itu merupakan tempat masuk rahasia dari jaringan terowongan yang luas dan panjang itu. Dalam bahasa Quechuan, kata Arica itu berarti pintu terbuka. Bahasa Cuechuan adalah bahasa Kuno di daerah Andes itu. Seorang Peru menceritakan pada Madam Blavatsky bahwa apabila kita mengirimkan seribu pasukan untuk memasuki terowongan itu maka mereka akan menemui ajalnya dan mati bersama-sama dengan mayat-mayat yang ada di dalam terowongan itu. Seandainya mereka mencoba memberanikan diri untuk memasuki ruangan di mana harta karun orang-orang Inka yang sudah mati itu berada, maka mereka tidak akan pernah bisa masuk ke dalam dan mencapai lokasi penyimpanan harta berharga itu. Tak ada jalan lain masuk yang lainnya, kecuali melalui pintu rahasia yang terletak di sebuah gunung di dekat Rio Payquito, Arica.



Beberapa kilometer dari Arica terdapat lukisan-lukisan tanah Nazca, Peru—yang kesohor itu—yang terletak di lereng-lereng bukit.



Menurut para ahli purbakala, lukisan raksasa itu yaitu yang menggambarkan burung condor, ilama, serigala, dan manusia berasal dari tahun 200SM. Tetapi apa makna dan tujuan dari setiap lukisan tersebut sampai sekarang masih merupakan teka-teki besar yang belum terpecahkan.Di gurun Arica yang gersang, di sebelah selatan terdapat juga hieroglyph raksasa yang tingginya kurang lebih 120 meter. Ini juga suatu teka-teki besar yang memerlukan penyelidikan yang seksama. Untuk apakah orang membuat benda seperti itu? Menurut orang yang sependapat dengan Erich Von Daeniken, ini tidak lain merupakan sebuah rambu-rambu untuk kapal udara, karena penjelasan lainnya tidak sesuai untuk menerangkan kegunaan dari benda itu.



Menurut Dr.Cabrera, seluruh perpustakaan batu yang ditinggalkan oleh “umat pra-sejarah” itu berada di dalam sebuah terowongan bawah tanah. Dr. Cabrera yakin bahwa kurang lebih ada sekitar satu juta potong batu yang tersimpan di sana; suatu perpustakaan yang lengkap yang mengandung hikayat, cerita, atau legenda yang terperinci sejak jaman dahulu kala mengenai planet yang kita tinggali ini. Dr. Cabrera malah menyinggung bahwa ia tahu letak dari salah satu pintu masuk rahasia itu. Tetapi ia menolak untuk masuk ke sana, kecuali apabila ia dikawal oleh satu pasukan dari Angkatan Bersenjata.



Kata Dr. Cabrera: “Di tempat itu terdapat sebuah warisan yang bukan milik Peru saja, tetapi milik seluruh umat manusia”.



DATARAN PUNCAK SIMETRIS



Sejumlah penduduk pegunungan dan anggota patroli perbatasan di Argentina melaporkan bahwa mereka melihat suatu dataran tinggi yang bentuknya aneh sekali. Bentuk dari dataran tinggi itu ialah segiempat sempurna yang kesemua sisinya terdiri dari jalan raya yang lebar. Satu di antaranya merupakan jalan yang lebar sekali.



Di sebelah bagian Chili dari pegunungan Cordillera tersebar berita tentang adanya kota kuno. Orang dari Gunung Chili menamankannya “Enladrillado”, yang artinya dalam bahasa kita ialah “Landasan Pesawat Luar Angkasa” dan lokasinya terletak dekat kota peristirahatan Lo Vilches. Anggota-anggota Lembaga Sejarah Chilli pernah menyaksikan sendiri selama perjalanan dalam suatu ekspedisi ke Pehuenche, yang merupakan tempat penyeberangan di kawasan perbatasan.



Mereka menyaksikan dataran tinggi itu dari puncak gunung yang berdampingan. Yang mereka lihat adalah landasan pendaratan raksasa yang sangat simetris bentuknya. Permukaannya datar sekali dan sangat kontras. Landasan tersebut lebih gelap warnanya dan di pusatnya dapat dilihat bentuk-bentuk lingkaran dan segiempat.



Penduduk yang tinggal dekat tempat itu melaporkan seringnya terlihat kilatan-kilatan cahaya terang. Para petani yang tinggal di sekitar lokasi, ketika diwawancarai, mengaku bahwa mereka sering mendengar suara-suara aneh yang mirip kegaduhan latihan militer pada tengah malam.



Seorang petani yang pernah mengunjungi landasan itu dengan putranya melaporkan bahwa mereka telah menemukan potongan-potongan logam kecil yang setelah diselidiki tidak diketahui susunan campuran kimiawinya. Beberapa ahli berpendapat bahwa “Landasan Pesawat Ruang Angkasa” itu merupakan bagian dari suatu kota yang hilang. Landasan atau dataran itu seperti sebuah airport yang dibangun pada jarak yang tidak mengganggu kesibukan di kota moderen. Apakah “Landasan” yang dilaporkan di Argentina itu sama dengan yang diberitakan di Chilli? Hal ini masih merupakan tanda-tanya yang besar.



Semua peninggalan misterius yang baru saja dipaparkan semuanya terletak di negara-negara Amerika Selatan dan Tengah. Contoh-contoh lainnya yang bisa kita ambil ialah peninggalan-peninggalan misterius lainnya yang terletak di belahan lainnya di dunia ini. Masih terlalu banyak contoh yang dapat kita

kemukakan seperti misalnya peninggalan-peninggalan purbakala yang misterius yang ada di Mesir, Cina, Inggeris dan negara-negara Eropa lainnya; negara-negara Amerika Latin dan Amerika Tengah; India dan lain-lain yang kesemuanya merupakan rangkaian dari teka-teki yang memerlukan jawaban yang pasti karena kalau tidak setiap interpretasi atas setiap peninggalan masa lampau yang misterius itu bisa diajukan dan bisa mengaburkan pandangan kita yang berniat untuk mencari hakikat kebenaran di balik semua peninggalan misterius itu.

Andi Arief Dua

www.lintas-copas.blogspot.com