Selasa, 18 Desember 2012

Premanisme & Mafia: dari Romawi hingga pembunuhan oleh anak-anak

Awalnya, Kekaisaran Romawi membentuk pasukan elit untuk melindungi para pejabatnya. Dikenal dengan nama Pengawal Praetorian. Adanya pengawalan khusus yang sangat setia membuat para pejabat Romawi bersaing secara busuk dengan memanfaatkan pasukan pengawal masing-masing, baik dengan cara kekerasan, menyuap, bermain intrik dan sebagainya.

Penghasilan anggota Pengawal Praetorian jauh lebih tinggi daripada penghasilan tentara biasa. Disamping itu, Pasukan Pengawal Praetorian juga mendapatkan imbalan khusus yang disebut dengan donativum.


Ketika Romawi jatuh dalam kekuasaan Kerajaan Arab, budaya donativum tidak ikut luntur. Jika ada seseorang berbuat kejahatan, seperti mencuri harta seseorang, maka ia memberikan donativum kepada sekelompok orang untuk memaksa korban kejahatan memberikan maaf, yang dalam bahasa arab disebut maghfiroh. Dengan adanya maghfiroh, penguasa arab tidak bisa menuntut hukuman pada pelaku kejahatan, pelaku kejahatan pun akan aman, yang dalam bahasa arab-nya mu’afa.




Usaha untuk mendapatkan mu’afa ini merupakan bentuk perlawanan tidak langsung dari orang Italy terhadap penguasa dari Arab. Karena melawan penguasa, mereka pun mengorganisasikan diri dengan rapi demi mendapatkan mu’afa. Dari mu’afa inilah lahir istilah ‘mafia‘.



Setelah Italy lepas dari kekuasaan kerajaan Arab, banyak orang italia yang dikirim ke belahan bumi lain sebagai missionaris, termasuk ke Jepang sekitar pertengahan tahun 1500-an. Namun di awal tahun 1600-an, Agama Kristen dilarang oleh penguasa Jepang dan akan dimusnahkan. Para samurai yang telah belajar dari Roma mengorganisir sebuah perlawanan yang terdiri dari para samurai jalanan (ronin) untuk melindungi orang kristen Jepang (Kirishitan). Perlawanan itu dilakukan sama seperti perlawanan orang Italy terhadap pendudukan kerajaan Arab, sehingga muncullah organisasi perlawanan yang sampai sekarang kita kenal dengan nama Yakuza.


Setelah Pemerintah Jepang menerima Agama Kristen, sebagian Yakuza tidak membubarkan diri melainkan justru menciptakan jaringan bisnis baru. Bahkan di tahun 1930-an, Pemerintah Jepang menggunakan organisasi Yakuza untuk menyerbu Manchuria. Di Manchuria, Yakuza mengorgansir sisa-sisa pelawanan Dinasti Qing untuk menjadi organisasi hitam. Organisasi hitam yang dibentuk pada masa Perang DUnia II inilah yang selanjutnya kita kenal dengan nama Triad.


Setelah Jepang angkat kaki dari daratan China, Triad mulai mengelola bisnis peninggalan Yakuza dan bekerja sama dengan Partai Penguasa, Kuomintang. Namun saat Mao berkuasa, pemerintah China mengobrak-abrik Triad sehingga banyak anggota Triad yang lari ke Hongkong, Taiwan, Asia Tenggara, bahkan ke Amerika dan Eropa, kemudian membangun kerajaannya sendiri. Sedangkan Mafia di Italy mendapat perlawanan dari pemerintah Italy pada masa pemerintahan Musollini. Anggota Mafia Italy ini juga banyak yang lari ke luar negeri dan membangun organisasi yang sama.


Kini, mafia sudah menjadi bagian dari peradaban kita saat ini. Tidak perlu bergabung dengan organisasi mafia untuk bisa melakukan aksi preman ala mafia, cukup belajar dari apa yang tersaji di sekitar kita. Contohnya belajar dari sinetron yang menanyangkan bagaimana tokoh antagonis meyusun rencana aksi mafia kemudian hidup enak dari hasil aksi mafianya, dengan tokoh protagonis yang harus selalu sabar dan mengalah, dan tak kunjung bahagia karena perpanjangan cerita …


Jadi jangan heran kalo anak-anak SD pun sudah mampu menyusun rencana pembunuhan . Karena anak SD sudah memiliki kemampuan logika namun belum bisa membedakan realitas kehidupan dengan realitas tayangan televisi.


[Sejarah Mafia, Yakuza dan Triad yang disampaikan di sini masih kontroversi, mohon membaca dengan bijak serta mohon koreksinya - terima kasih]



Muhammad Wislan Ari

www.lintas-copas.blogspot.com