Rabu, 05 Desember 2012

Sebahagian Kecil Catatan Belanda Terhadap Sultan Sulaiman Sjariful Alamsjah (Sultan Serdang)

DARI BEBERAPA “MEMORIE VAN OVERGAVEN” (MEMORI SERAH TERIMA JABATAN) :

dari M.v.O Resident Sumatera Timur J.Ballot (1905-1910).

” De Sultan van serdang mokt voortdurend en gaf een tijdlang ernstige redenen tot ontevredenheid “


“Sultan Serdang itu selalu saja menunjukkan ketidak puasannya dan selalu terus menerus memberikan alasan kuat dengan serius menunjukkan ketidak senangannya itu”).



” Zie o.a mijn geheim : schriven aan de Regering van 14-1-1907 no.12 en veel medewerking wordt niet van hem ondervonden” .



(”Lihat surat rahasia kepada pemerintah Pusat tanggal 14-1-1907 no.12 dan kerjasama yang baik dari dia tidak diperoleh”).



*dari M.v.O Gubernur Sumatera Timur, Grijzen (1921).



“De Sultan van Serdang is verreweg de minste der broederen. Van hem geldt alleen de vraag hoe hij het meer te voordeel uit zijn waardigheid kan trekken”



“daarbij komt dat de Sultan zich bijna stelselmatig verzet tegen allerlei voorstellen die van het Hoofd van Gewestuitgaan ter verbetering van diversen toestanden, voorstelleen die over het algemeen door de overige Zelfbesturen zonder bezwar worden aangenomen.”



“Ook heefft hij bezwaren tegen de door de regering gewenschte wijzigingen van het Politiek Contraact. Door al die omstandigheden is de Sultan mijn inzien niet op zijn plaats ! “.



“Daaroom was het mijn plan hem alle bezwaren tegen hem voor te houden en hem een ULTIMATUM te stellen, v.nl ten aanzien van zijn aanspreken op meer genoemde gronden”



” Sultan Serdang adalah yang paling sedikit bekerjasama dibandingkan dengan raja-raja yang lain. daripadanya hanya berlaku pertanyaan seberapa banyak dia dapat mengait keuntungan dari Marwahnya dan harga dirinya”



“”Ditambah lagi Sultan itu secara sistemik menentang semua usulan yang datang dari Pemerintah keresidenan, mengenai bebagai perbaikan situasi suatu usulan yang pada umumnya diterima saja oleh raja-raja yang lain. Ia juga menentang perubahan yang diajukan Pemerintah Hindia Belanda terhadap Politik Kontrak. Dari semua keadaan diatas menurut pandangan Saya, Sultan itu tidak lagi pada tempatnya !.”



“Oleh sebab itu menjadi rencana Saya menjawab semua keberatannya saya akan memberikan ULTIMATUM terutama mengenai tuntutan nya atas tanah”



*S.L.v.d. Wal, “Officele Beschei den Betreffende de Nederlands Indonesische Betrekkingen 1945-1950″ Vol.1 p.521, 1972 :



” Ketika diketahui resmi bahwa Soekarno-Hatta telah memproklamirkan kemerdekaan Indonesia tanggal 17-8-1945, maka Sultan Sulaiman Sjariful Alamsjah mengirim telegram kepada Gubernur Sumatera, Teuku Mr.mohd.Hasan dan Soekarno yang isinya :



“HARAP SAMPAIKAN KEPADA PRESIDEN INDONESIA ITU, BAHWA KERAJAAN SERDANG DAN SELURUH DAERAH TAKLUKKANNYA HANYA MENGAKUI KEKUASAAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA YANG DIPROKLAMIRKAN NYA ITU DAN SEGALA KEKUATAN BETA AKAN MENDUKUNG INDONESIA”……itu yang diperoleh agen kita, sehingga jelas tidak bisa diperoleh lagi dukungan dari Sultan Serdang itu kepada Belanda”.



mengutip pidato bupati MUNAR S.HAMIJOYO pada saat upacara pemakaman Sultan Sulaiman Sjariful Alamsjah pada tanggal 13 Oktober 1946 di Mesjid Raya Sulaimaniyah, Perbaungan :


” JIKA SEANDAINYA ALMARHUM INI MASIH MUDA , MAKA PASTI KEGIATANNYA UNTUK BANGSA DAN NEGARA INI SEBANDING DENGAN SULTAN HAMENGKUBUWONO IX DARI JAWA, ALMARHUM TAK TAKUT KEPADA KOLONIAL BELANDA !”

Tengku Haris A S



www.lintas-copas.blogspot.com