Jumat, 14 Desember 2012

Sejarah Pieterszoon Coen Direvisi Informasi di patung Coen akan diluruskan. Bahwa ia memerintah dengan kekerasan.


Jan Pieterszoon Coen (/nl.wikipedia.org)



Ia pernah menjadi penguasa Hindia Belanda dengan title Gubernur Jenderal. Dengan kekuasaannya, ia bertanggung jawab atas genosida di Kepulauan Banda, Maluku yang melawan monopoli VOC dalam perdagangan rempah.

Namun, nama Jan Pieterszoon Coen tetap harum di kampung halamannya, Kota Hoorn, Belanda. Dianggap pahlawan. Fotonya sempat dipampang di uang Gulden, patungnya berdiri angkuh di alun-alun.

Sampai beberapa hari lalu. Setelah pembicaraan selama berbulan-bulan, Pemerintah Kota Hoorn, provinsi Noord Holland, memutuskan akan melengkapi informasi lebih soal tuan Pieterszoon Coen pada patungnya itu.

Seperti ditulis situs penyiaran publik Belanda, NOS, yang dimuat situs Radio Nederland (RNW), keputusan itu menyusul tuntutan sekelompok warga yang menganggap, "kebijakan perdagangan Coen yang penuh kekerasan di Nusantara tidak layak disanjung."

Sebelumnya di alas tumpuan patung bertuliskan, "Jan Pieterszoon Coen (1587-1629). Lahir di Hoorn. Gubernur Jenderal VOC dan pendiri Batavia, sekarang Jakarta. Patung ditempatkan tahun 1893."

Nantinya, dalam naskah pada patung akan menyebutkan bahwa kesuksesan Coen sebagai gubernur jenderal di Nusantara, di bawah pemerintahan VOC, didapatkan dengan penuh kekerasaan. Selain itu, juga akan disebutkan bahwa patung ini bukannya tidak kontroversial.

Sebenarnya, para pengkritik ingin melengkapi informasi dengan pembantaian yang dilakukan oleh Coen pada tahun 1621. Namun, DPRD Hoorn menganggap langkah ini terlalu berlebihan.

"Berkat gagasan kami, pemerintah mau meninjau kembali hal ini, sayangnya kurang memuaskan. Apa lagi yang harus saya perbuat. Mungkin generasi berikutnya bisa bertindak lebih jauh," kata salah satu penggagas petisi.

Membantai warga Banda

Peran Coen di Indonesia memang bersejarah sekaligus menggerikan. Pada tahun 1621, Coen memerintahkan pembunuhan massal di Pulau Banda, satu-satunya tempat tumbuhnya tanaman pala di masa itu. Coen menghukum warga yang menolak menjual hasil panen hanya kepada VOC dan kemudian membunuh para petinggi VOC. Seluruh penduduk pulau Banda dibinasakan.

Puluhan pemimpin rakyat Banda dieksekusi. Mereka yang masih bernyawa dikapalkan sebagai budak. Penduduk yang berhasil melarikan diri ke pegunungan menderita kelaparan.

Pada 16 Agustus 2011, sehari sebelum peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-66, patung Coen sempat tumbang. Sebuah mobil derek menabraknya dengan keras, ketika akan memasang lampu jalan. Kerusakan cukup parah sehingga patung harus dipindahkan dan diperbaiki.

Saat itu, keberadaan patung sudag menuai protes. "Patung itu melambangkan penghormatan terhadap seorang pembantai terbesar dalam sejarah Belanda," demikian pendapat Eric van de Beek, pemrakarsa Burgerinitiatief atau Prakarsa Warga yang ingin patung itu dipindahkan dari alun-alun Hoorn ke museum.

Coen meninggal dalam usia yang relatif muda, 42 tahun. Namun, sepanjang usianya yang singkat, ia mampu menjelma jadi sosok kontroversial. Ia mendapat julukan 'Ijzeren Jan' atau 'Jan Besi', karena kebengisannya itu.

Konon, beberapa hari sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia masih menyiksa anak asuhnya Sarah, yang ketahuan main serong dengan seorang pelaut. Sang pelaut dihukum mati.

VIVA



www.lintas-copas.blogspot.com